Kemarin saya mendengar podcast Suara Berkelas dengan narasumber Henry Manampiring. Henry, dalam salah satu percakapannya di podcast tersebut, mengatakan punya dongeng yang dikisahkan oleh gurunya. Cerita itu nempel sekali di benaknya, sehingga dia menceritakan di edisi podcast ini.
Kemudian saya teringat pernah membaca dongeng yang dia maksud, lalu saya tanyalah ChatGPT. Dengan sedikit kata kunci, aplikasi pintar ini membeberkan bahwa kisah ini berasal dari idiom Tiongkok, yang tercatat dalam kitab filsafat Huainanzi (淮南子), karya para sarjana Dinasti Han sekitar abad ke-2 SM.
Ceritanya sangat bagus, dan saya tulis ulang di sini:
Di sebuah desa kecil dekat perbatasan, hiduplah seorang lelaki tua bersama anak laki-lakinya. Ia bukan orang kaya. Hartanya hanya sebuah ladang sederhana dan seekor kuda yang sangat ia andalkan untuk bekerja.
Lelaki tua itu dikenal bijaksana. Ia jarang mengeluh dan tidak mudah terlalu gembira.
Suatu hari, kudanya tiba-tiba kabur melintasi perbatasan dan menghilang.
Para tetangga datang menghibur.
Lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata,
“Siapa yang tahu? Mungkin ini musibah, mungkin juga keberuntungan.”
Tetangga-tetangga saling berpandangan. Mereka merasa jawaban itu aneh.
Beberapa bulan kemudian, kuda itu kembali.
Bukan sendirian.
Ia membawa beberapa kuda liar yang kuat dan sehat.
Kini lelaki tua itu memiliki lebih banyak kuda daripada sebelumnya.
Tetangga datang lagi.
“Wah, ternyata engkau sangat beruntung!”
Lelaki tua itu menjawab tenang,
“Siapa yang tahu? Mungkin ini keberuntungan, mungkin juga musibah.”
Tak lama setelah itu, anak laki-lakinya mencoba menunggang salah satu kuda liar baru itu.
Kuda itu terlalu liar.
Anaknya terjatuh keras ke tanah.
Kakinya patah parah.
Tetangga datang lagi, penuh belas kasihan.
“Ah, sungguh malang. Putramu terluka dan tak bisa bekerja.”
Lelaki tua itu tetap tenang.
Ia berkata,
“Siapa yang tahu? Mungkin ini musibah, mungkin juga keberuntungan.”
Beberapa waktu kemudian, perang besar pecah.
Pemerintah datang ke desa, memaksa semua pemuda untuk ikut berperang.
Banyak orang tua menangis karena tahu perang itu sangat berbahaya.
Hampir semua pemuda dibawa pergi.
Namun ketika mereka melihat anak lelaki tua itu, mereka tidak membawanya karena kakinya masih pincang.
Banyak pemuda yang pergi ke perang tidak pernah kembali.
Anak lelaki tua itu tetap hidup.
Para tetangga akhirnya mengerti.
Apa yang dulu tampak seperti kesialan ternyata menyelamatkan nyawanya.
Dan apa yang tampak seperti keberuntungan, bisa saja membawa bencana.
Sejak saat itu mereka memahami kebijaksanaan lelaki tua itu:
Kita sebagai manusia sangat terbatas informasi terkait masa depan. Apa yang kita rasakan hari ini, entah itu kesedihan atau kegembiraan atas suatu kejadian, kita tidak tahu ending-nya nanti bagaimana.
Apakah kesedihan memang sesedih itu, atau bisa jadi itu adalah awal kebahagiaan yang tidak terlihat… atau apakah kesenangan yang kita rasakan hari ini akan tetap berakhir sebagai kebahagiaan.
Kita benar-benar tidak pernah tahu, itu rahasia Tuhan.
Sangat indah cerita ini meminta kita menyikapi segala sesuatu biasa-biasa saja. Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menilai sebuah peristiwa—sebagai musibah ataupun keberuntungan.
Saya jadi ingat tulisan pendek saya bertahun-tahun lalu.
Baca di Piramida Perasaan
Di situ saya menulis tentang nasihat teman saya waktu duduk di bangku kuliah semester 5. Dia menyadari sejak muda pentingnya menyikapi segala hal dengan bersikap biasa saja, saya menyadari hal ini setelah dewasa.

0 komentar:
Posting Komentar
Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis