19 Jun 2026

Afif Cabut Gigi: Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi


 

“Ma, ada gigiku tumbuh,” kata Afif (6 tahun).

Saya periksa, iya benar. Gigi susu bagian bawah sudah ada penggantinya, ukurannya sudah besar. Saya telat mengeceknya.

Kami bawalah Afif ke Puskesmas, atas permintaannya sendiri. Dia ingin giginya dicabut dokter, bukan mama.

Sebelum giginya dicabut, saya minta dia tersenyum, memperlihatkan giginya yang masih utuh.

“Mama mau foto, untuk kenangan.”

Biasanya dia sangat anti foto begini. Dia selalu berekspresi datar, paling maksimal senyum mingkem. Menurutnya, foto sambil unjuk gigi akan membuatnya terlihat jelek. Kali ini dia mau menurutiku.




Saya menjanjikan Afif es krim dan uang Rp10.000 kalau dia selesai cabut gigi.

“Afif boleh pilih es krim yang paling mahal.”

Dalam perjalanan ke puskesmas, khususnya ketika masuk pekarangan, dia merengek khawatir. Dia takut kesakitan.

Dia menanyakan apakah giginya dikasih obat saja atau tetap harus dicabut, kenapa harus dicabut, apakah gigi mama pernah dicabut.

Saya menjelaskan dengan kalimat yang paling mudah dia pahami, kalau gigi yang lama akan ada penggantinya, sehingga harus dicabut.

Kami memasuki ruangan poli gigi.

Saya sampaikan ke dokter kalau ini pengalaman pertama Afif cabut gigi. Dokter mengangguk, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Dokter memperlakukan Adek Afif dengan sangat baik. Mengajaknya ngobrol dengan riang sambil membimbingnya ke kursi tindakan.

“Siapa namanya? Sudah kelas berapa? Wah, baru TK, sudah tinggi ya.”

“Dokter semprot dulu giginya ya.”

“Tidak sakit kan? …anak pintar… anak ganteng.”

Seperti itulah kurang lebih dokter perempuan ramah mengajak Afif ngobrol. Sampai Adek Afif tidak menyadari giginya dicabut.

Saat gigi mulai dicabut, dia meringis saja. Tapi ketika gigi kedua langsung diambil juga, dia mulai menangis.

Gigi kedua sebelumnya tidak direncanakan akan dicabut sebelumnya. Posisinya belum terlalu goyang, tapi dokter menyampaikan dengan berbisik kalau anakannya mulai tumbuh, sebaiknya sekalian saja.

Afif hanya menangis dalam hitungan detik, selebihnya dia meringis saja. Dia tegar untuk anak seumurnya.

Semua yang ada di ruangan, dokter-dokter, beberapa perawat, termasuk saya, memberi tepuk tangan meriah.

“Horeee… selesaiii… anak pintar.”

Afif sumringah.

Kami pulang dijemput bapak, sebelumnya menepati janji dengan singgah di minimarket membeli es krim pilihan Afif. Tak lupa dia membelikan kakaknya yang di rumah.

Uang kembaliannya saya serahkan ke Afif.

“Ini mama kasih 20rb, karena gigi Afif dicabut 2.”

Afif berekspresi senang. Senyumnya dihiasi tempelan kapas yang terselip di gusinya yang ompong.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis