16 Jun 2026

Gibah yang Terucap



Gibah yang terucap. Nama di tulisan ini saya samarkan tanpa mengubah substansi dan pesan yang akan disampaikan.

Pak Budi dulunya adalah sekretaris PPS, lalu dia dilantik menjadi lurah di suatu kelurahan menggantikan lurah lama yang telah dipindahtugaskan.

Sebelum bekerja sama sebagai penyelenggara pemilu, saya sudah mengenal Pak Budi karena beliau ini sekampung dengan suami.

Ada yang unik dengan proses kenaikan pangkatnya jadi lurah. Dia dipanggil oleh wali kota untuk dites mengaji. Rupanya Pak Budi tidak lolos ujian, dia disuruh pulang belajar.

Sepertinya dia sudah bisa mengaji sekarang, buktinya dia telah dilantik kemarin.

Waktu kami mau berangkat coklit terbatas (coktas) ke lapangan, di mobil ada saya, Pak Amin, Bu Kasma, dan Bu Kalma.

Pak Budi menyapa kami dari motornya.

“Mau ke mana?” tanya Pak Budi.

Bu Kalma lalu menghampirinya menjelaskan niat kami mau coktas di salah satu wilayah kecamatan.

Kami kemudian lanjut naik mobil dan saya tiba-tiba nyeletuk,

“Eh, tahu tidak? Pak Budi kemarin sempat tidak lolos ngaji.”

Hening, tak ada yang menimpali omonganku.

Seketika saya sadar telah gibah. Saya membekap mulut dan mengetok kepala sendiri.

“Astagfirullah, apa gunanya saya mengatakan ini?”

Bu Kalma hanya mengiyakan dengan anggukan dan senyum kecut.

Seharian itu saya istigfar dan saya menyesali kenapa mengucapkan kalimat buruk itu. Itu spontan dan tanpa pikir-pikir dulu.

Tadi di mobil saya mencoba menebus dosa dengan bilang, “Pak Budi baik hati, membantu urusanku di kelurahan.”

Agak garing.

Astagfirullah, seakan saya lancar ngaji saja, merendahkan orang lain sedemikian rupa. Semoga Allah mengampuni.

Saya belajar dari cerita ini:

  1. Janganlah tahu aib orang lain, kamu akan kesulitan menyimpannya untuk pengetahuanmu sendiri.
  2. Hitunglah 10 detik sebelum bicara.
  3. Istigfar segera untuk setiap dosa yang dilakukan.
Ditulis 11 Maret 2026

0 komentar:

Posting Komentar

Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis