Kenapa ada penjual yang dagangannya ramai, ada yang sepi?
Mungkin karena “pelit” salah satu sebabnya.
Saya memilih membeli tomat di lapak seorang bapak umur 40-an yang terlihat sepi pembeli, supaya Allah mencatatnya sebagai sedekah. Padahal tomat di tempat lain seharga Rp5.000–6.000. Bapak ini menjual tomat dengan 2 harga: Rp5.000 untuk yang kualitas kurang, Rp7.000 untuk kualitas bagus.
Saya memutuskan membeli harga Rp7.000. Bapak penjual mulai menimbang 1 kg tomat. Saya melihat jarum di timbangan lebih 1 garis dari 1 kg, artinya lebih 10 gram dari seharusnya. Saya kira dia akan mengikhlaskannya, ternyata dia mengembalikan 2 buah tomat ke tempatnya.
Saya mendapati diriku urung menanyakan harga cabe di samping tumpukan tomat. Oh, inilah penyebabnya, saya jadi paham.
Padahal jika dia tidak sepelit dan seperhitungan tadi, bisa jadi saya belanja macam-macam dan akan jadi langganan.
Lain cerita dengan Pak Aji, penjual pisang. Di saat memasuki Ramadan, saya kaget sejak mulai masuk pasar. Saya dapati harga rata-rata pisang naik 2 kali lipat, bahkan ada 1 sisir dijual Rp30.000. Saya dan suami tatap-tatapan dengan mulut menganga.
Kami akhirnya masuk ke bagian dalam sebelah kanan pasar.
Sebelum lapak Pak Aji, harga pisang masih tinggi, Rp20.000 per sisir. Tak ada lapak antaranya, Pak Aji menjual Rp15.000 / 2 sisir.
Saya sampai mengulang pertanyaan dan memastikan harganya benar.
Oohh, rupanya ini cara kerjanya rezeki.
Pantas pisang-pisang di penjual yang lain tinggal jadi stok yang bonyok dan menghitam. Pisang di lapak Pak Aji dihitung jari jika sudah siang hari.
Masya Allah.
Demikian hal yang kupelajari hari ini.

0 komentar:
Posting Komentar
Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis