![]() |
| Buku Miyuki dengan latar bapak lagi kerja |
Miyuki Inoue adalah anak yang lahir prematur. Ibunya hamil enam bulan saat ayah Miyuki, yang belum resmi menikahi ibunya, meninggal dunia karena kecelakaan.
Ibu hamil yang dirundung sedih ini melahirkan anak seberat 500 gram, yang diprediksi dokter hanya mampu bertahan hidup 2–3 hari saja. Namun kuasa Tuhan berkata lain. Anak yang diberi nama Miyuki Inoue itu hidup lebih lama, meski tidak dapat melihat.
Sebagai ibu yang juga bertindak sebagai ayah bagi Miyuki, ibunya mendidiknya dengan sangat keras. Dia tidak ingin Miyuki tumbuh menjadi anak yang manja. Dia ingin Miyuki mandiri, pintar, dan berdaya seperti anak-anak normal lainnya. Karena itu, dia selalu menekankan kepada anaknya untuk berusaha berkali-kali lipat lebih keras dibandingkan orang lain.
Miyuki dididik dengan bentakan dan dipaksa untuk bisa banyak hal. Belajar naik sepeda, misalnya. Miyuki berkeinginan bisa naik sepeda sendiri. Ibunya membiarkan dia jatuh, berdarah, lalu bangkit sendiri, sampai akhirnya Miyuki bisa bersepeda. Miyuki pernah bilang, ibunya seperti setan, saking jahatnya pada dirinya.
Miyuki pernah mengalami sakit lambung yang aneh selama satu tahun. Dokter tidak tahu apa penyebabnya, sampai ibunya menyadari bahwa anaknya sakit secara mental dan itu memengaruhi kondisi fisiknya.
Ibu Miyuki lalu menceritakan kisah hidupnya kepada sang anak. Ternyata hidup ibunya jauh lebih malang.
Pola didikan ibu Miyuki yang keras tak lepas dari masa lalunya yang sangat pahit. Dia merasa tidak ada yang mencintainya selain kakeknya, itu pun sang kakek meninggal dunia terlalu cepat. Bahkan ibu kandungnya sendiri tidak memperbolehkannya memanggil “ibu” dan memaksanya minum minuman keras saat melayani tamu di kedai milik ibunya.
Dia kehilangan masa kecil yang indah. Hidupnya dipenuhi perasaan tak diinginkan dan tak disayangi.
Itulah sebabnya ibu Miyuki sangat keras kepada anaknya. Dia ingin hidup anaknya jauh lebih baik daripada hidup yang pernah dia jalani sendiri.
Miyuki lalu menulis cerita tentang kehidupannya bersama sang ibu, berjudul Air Mata Ibuku dan Diriku dalam Genggaman. Karyanya mengantarkan dia menjadi pemenang lomba mengarang tingkat nasional di Jepang, saat usianya masih remaja.
Kisah Miyuki Inoue berakhir dengan happy ending. Ibu dan anak itu sama-sama menulis kisah hidup mereka dari sudut pandang yang berbeda.
Miyuki mengatakan bahwa melalui proses penulisan buku itu, dia mulai mengenal ibunya lebih dalam. Dia akhirnya bisa memahami ibunya sekarang, walaupun hanya sedikit.
Hal yang saya pelajari dari Miyuki dan ceritanya, seorang ibu sangat mencintai anak-anaknya, hanya caranya berbeda-beda. Ada ibu yang mendidik dengan lembut, ada pula yang keras, tergantung bagaimana luka batin yang dibawanya sejak kecil.
Kalau luka batin itu tak sempat sembuh saat anak sudah lahir, maka situasi mental ibu saat itu akan menjadi bagian dari proses parentingnya.







