19 Jun 2026

Review Buku : Aku Terlahir 500gr dan Buta

Buku Miyuki dengan latar bapak lagi kerja 

Miyuki Inoue adalah anak yang lahir prematur. Ibunya hamil enam bulan saat ayah Miyuki, yang belum resmi menikahi ibunya, meninggal dunia karena kecelakaan.

Ibu hamil yang dirundung sedih ini melahirkan anak seberat 500 gram, yang diprediksi dokter hanya mampu bertahan hidup 2–3 hari saja. Namun kuasa Tuhan berkata lain. Anak yang diberi nama Miyuki Inoue itu hidup lebih lama, meski tidak dapat melihat.

Sebagai ibu yang juga bertindak sebagai ayah bagi Miyuki, ibunya mendidiknya dengan sangat keras. Dia tidak ingin Miyuki tumbuh menjadi anak yang manja. Dia ingin Miyuki mandiri, pintar, dan berdaya seperti anak-anak normal lainnya. Karena itu, dia selalu menekankan kepada anaknya untuk berusaha berkali-kali lipat lebih keras dibandingkan orang lain.

Miyuki dididik dengan bentakan dan dipaksa untuk bisa banyak hal. Belajar naik sepeda, misalnya. Miyuki berkeinginan bisa naik sepeda sendiri. Ibunya membiarkan dia jatuh, berdarah, lalu bangkit sendiri, sampai akhirnya Miyuki bisa bersepeda. Miyuki pernah bilang, ibunya seperti setan, saking jahatnya pada dirinya.

Miyuki pernah mengalami sakit lambung yang aneh selama satu tahun. Dokter tidak tahu apa penyebabnya, sampai ibunya menyadari bahwa anaknya sakit secara mental dan itu memengaruhi kondisi fisiknya.

Ibu Miyuki lalu menceritakan kisah hidupnya kepada sang anak. Ternyata hidup ibunya jauh lebih malang.

Pola didikan ibu Miyuki yang keras tak lepas dari masa lalunya yang sangat pahit. Dia merasa tidak ada yang mencintainya selain kakeknya, itu pun sang kakek meninggal dunia terlalu cepat. Bahkan ibu kandungnya sendiri tidak memperbolehkannya memanggil “ibu” dan memaksanya minum minuman keras saat melayani tamu di kedai milik ibunya.

Dia kehilangan masa kecil yang indah. Hidupnya dipenuhi perasaan tak diinginkan dan tak disayangi.

Itulah sebabnya ibu Miyuki sangat keras kepada anaknya. Dia ingin hidup anaknya jauh lebih baik daripada hidup yang pernah dia jalani sendiri.

Miyuki lalu menulis cerita tentang kehidupannya bersama sang ibu, berjudul Air Mata Ibuku dan Diriku dalam Genggaman. Karyanya mengantarkan dia menjadi pemenang lomba mengarang tingkat nasional di Jepang, saat usianya masih remaja.

Kisah Miyuki Inoue berakhir dengan happy ending. Ibu dan anak itu sama-sama menulis kisah hidup mereka dari sudut pandang yang berbeda.

Miyuki mengatakan bahwa melalui proses penulisan buku itu, dia mulai mengenal ibunya lebih dalam. Dia akhirnya bisa memahami ibunya sekarang, walaupun hanya sedikit.

Hal yang saya pelajari dari Miyuki dan ceritanya, seorang ibu sangat mencintai anak-anaknya, hanya caranya berbeda-beda. Ada ibu yang mendidik dengan lembut, ada pula yang keras, tergantung bagaimana luka batin yang dibawanya sejak kecil.

Kalau luka batin itu tak sempat sembuh saat anak sudah lahir, maka situasi mental ibu saat itu akan menjadi bagian dari proses parentingnya. 

Afif Cabut Gigi: Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi


 

“Ma, ada gigiku tumbuh,” kata Afif (6 tahun).

Saya periksa, iya benar. Gigi susu bagian bawah sudah ada penggantinya, ukurannya sudah besar. Saya telat mengeceknya.

Kami bawalah Afif ke Puskesmas, atas permintaannya sendiri. Dia ingin giginya dicabut dokter, bukan mama.

Sebelum giginya dicabut, saya minta dia tersenyum, memperlihatkan giginya yang masih utuh.

“Mama mau foto, untuk kenangan.”

Biasanya dia sangat anti foto begini. Dia selalu berekspresi datar, paling maksimal senyum mingkem. Menurutnya, foto sambil unjuk gigi akan membuatnya terlihat jelek. Kali ini dia mau menurutiku.




Saya menjanjikan Afif es krim dan uang Rp10.000 kalau dia selesai cabut gigi.

“Afif boleh pilih es krim yang paling mahal.”

Dalam perjalanan ke puskesmas, khususnya ketika masuk pekarangan, dia merengek khawatir. Dia takut kesakitan.

Dia menanyakan apakah giginya dikasih obat saja atau tetap harus dicabut, kenapa harus dicabut, apakah gigi mama pernah dicabut.

Saya menjelaskan dengan kalimat yang paling mudah dia pahami, kalau gigi yang lama akan ada penggantinya, sehingga harus dicabut.

Kami memasuki ruangan poli gigi.

Saya sampaikan ke dokter kalau ini pengalaman pertama Afif cabut gigi. Dokter mengangguk, dia tahu apa yang harus dilakukan.

Dokter memperlakukan Adek Afif dengan sangat baik. Mengajaknya ngobrol dengan riang sambil membimbingnya ke kursi tindakan.

“Siapa namanya? Sudah kelas berapa? Wah, baru TK, sudah tinggi ya.”

“Dokter semprot dulu giginya ya.”

“Tidak sakit kan? …anak pintar… anak ganteng.”

Seperti itulah kurang lebih dokter perempuan ramah mengajak Afif ngobrol. Sampai Adek Afif tidak menyadari giginya dicabut.

Saat gigi mulai dicabut, dia meringis saja. Tapi ketika gigi kedua langsung diambil juga, dia mulai menangis.

Gigi kedua sebelumnya tidak direncanakan akan dicabut sebelumnya. Posisinya belum terlalu goyang, tapi dokter menyampaikan dengan berbisik kalau anakannya mulai tumbuh, sebaiknya sekalian saja.

Afif hanya menangis dalam hitungan detik, selebihnya dia meringis saja. Dia tegar untuk anak seumurnya.

Semua yang ada di ruangan, dokter-dokter, beberapa perawat, termasuk saya, memberi tepuk tangan meriah.

“Horeee… selesaiii… anak pintar.”

Afif sumringah.

Kami pulang dijemput bapak, sebelumnya menepati janji dengan singgah di minimarket membeli es krim pilihan Afif. Tak lupa dia membelikan kakaknya yang di rumah.

Uang kembaliannya saya serahkan ke Afif.

“Ini mama kasih 20rb, karena gigi Afif dicabut 2.”

Afif berekspresi senang. Senyumnya dihiasi tempelan kapas yang terselip di gusinya yang ompong.

17 Jun 2026

Musibah atau Keberuntungan: Siapa yang Tahu?



Kemarin saya mendengar podcast Suara Berkelas dengan narasumber Henry Manampiring. Henry, dalam salah satu percakapannya di podcast tersebut, mengatakan punya dongeng yang dikisahkan oleh gurunya. Cerita itu nempel sekali di benaknya, sehingga dia menceritakan di edisi podcast ini.

Kemudian saya teringat pernah membaca dongeng yang dia maksud, lalu saya tanyalah ChatGPT. Dengan sedikit kata kunci, aplikasi pintar ini membeberkan bahwa kisah ini berasal dari idiom Tiongkok, yang tercatat dalam kitab filsafat Huainanzi (淮南子), karya para sarjana Dinasti Han sekitar abad ke-2 SM.

Ceritanya sangat bagus, dan saya tulis ulang di sini:

Di sebuah desa kecil dekat perbatasan, hiduplah seorang lelaki tua bersama anak laki-lakinya. Ia bukan orang kaya. Hartanya hanya sebuah ladang sederhana dan seekor kuda yang sangat ia andalkan untuk bekerja.

Lelaki tua itu dikenal bijaksana. Ia jarang mengeluh dan tidak mudah terlalu gembira.

Suatu hari, kudanya tiba-tiba kabur melintasi perbatasan dan menghilang.

Para tetangga datang menghibur.

“Betapa malangnya nasibmu,” kata mereka.
“Kuda itu satu-satunya harta berhargamu.”

Lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata,

“Siapa yang tahu? Mungkin ini musibah, mungkin juga keberuntungan.”

Tetangga-tetangga saling berpandangan. Mereka merasa jawaban itu aneh.

Beberapa bulan kemudian, kuda itu kembali.

Bukan sendirian.

Ia membawa beberapa kuda liar yang kuat dan sehat.

Kini lelaki tua itu memiliki lebih banyak kuda daripada sebelumnya.

Tetangga datang lagi.

“Wah, ternyata engkau sangat beruntung!”

Lelaki tua itu menjawab tenang,

“Siapa yang tahu? Mungkin ini keberuntungan, mungkin juga musibah.”

Tak lama setelah itu, anak laki-lakinya mencoba menunggang salah satu kuda liar baru itu.

Kuda itu terlalu liar.

Anaknya terjatuh keras ke tanah.

Kakinya patah parah.

Tetangga datang lagi, penuh belas kasihan.

“Ah, sungguh malang. Putramu terluka dan tak bisa bekerja.”

Lelaki tua itu tetap tenang.

Ia berkata,

“Siapa yang tahu? Mungkin ini musibah, mungkin juga keberuntungan.”

Beberapa waktu kemudian, perang besar pecah.

Pemerintah datang ke desa, memaksa semua pemuda untuk ikut berperang.

Banyak orang tua menangis karena tahu perang itu sangat berbahaya.

Hampir semua pemuda dibawa pergi.

Namun ketika mereka melihat anak lelaki tua itu, mereka tidak membawanya karena kakinya masih pincang.

Banyak pemuda yang pergi ke perang tidak pernah kembali.

Anak lelaki tua itu tetap hidup.

Para tetangga akhirnya mengerti.

Apa yang dulu tampak seperti kesialan ternyata menyelamatkan nyawanya.

Dan apa yang tampak seperti keberuntungan, bisa saja membawa bencana.

Sejak saat itu mereka memahami kebijaksanaan lelaki tua itu:


Kita sebagai manusia sangat terbatas informasi terkait masa depan. Apa yang kita rasakan hari ini, entah itu kesedihan atau kegembiraan atas suatu kejadian, kita tidak tahu ending-nya nanti bagaimana.

Apakah kesedihan memang sesedih itu, atau bisa jadi itu adalah awal kebahagiaan yang tidak terlihat… atau apakah kesenangan yang kita rasakan hari ini akan tetap berakhir sebagai kebahagiaan.

Kita benar-benar tidak pernah tahu, itu rahasia Tuhan.

Sangat indah cerita ini meminta kita menyikapi segala sesuatu biasa-biasa saja. Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menilai sebuah peristiwa—sebagai musibah ataupun keberuntungan.

Saya jadi ingat tulisan pendek saya bertahun-tahun lalu.

Baca di Piramida Perasaan

Di situ saya menulis tentang nasihat teman saya waktu duduk di bangku kuliah semester 5. Dia menyadari sejak muda pentingnya menyikapi segala hal dengan bersikap biasa saja, saya menyadari hal ini setelah dewasa. 

16 Jun 2026

Kekasih Hati


 

Kekasih hati

Bolehkah aku mencintai-Mu?
Hamba yang hina lagi lemah,
banyak dosa dan tak kuat ibadah.

Bolehkah aku mencintai-Mu?
Hamba yang pelupa dan sering lalai,
shalat tak khusyuk,
sedikit sedekah.

Bolehkah aku memanggil-Mu “kekasih hati”?
Mengingat-Mu, hatiku terenyuh,
merasa tak pantas memandang wajah-Mu,
tapi ingin...
ingin, ya Allah.

Wahai Tuhan, kekasih hati,
balaslah cintaku dengan rida dan rahmat-Mu.
Cita-cita tertinggiku melihat-Mu.
Bagaimanakah wajah keagungan dan keindahan pemilik seluruh alam semesta?
Bukankah cita-cita tertinggi memang begitu,
melihat yang dia cintainya?

Bolehkah, ya Allah?
Dari berjuta-juta penghuni surga Firdaus,
mudah bagi-Mu menjadikan aku dan keluargaku berada di situ.
Aku ingin di surga Firdaus,
bukan karena fasilitasnya,
hanya karena ingin melihat-Mu.

Di dunia saja terasa demikian nikmat dan nyamannya hanya dengan mencintai-Mu,
apalagi di surga.
Ya kan, Rabb?

Tunjukkan jalan itu dengan kelembutan-Mu,
karena aku tidak sekuat wali kesayangan-Mu.
Aku hanya hamba yang mencintai-Mu.

Jangan hilangkan rasa ini selamanya.
Jangan hilangkan iman ini selamanya.

Terima kasih untuk semua kasih sayang-Mu

Parepare, 11 Maret 2026

 

Gibah yang Terucap



Gibah yang terucap. Nama di tulisan ini saya samarkan tanpa mengubah substansi dan pesan yang akan disampaikan.

Pak Budi dulunya adalah sekretaris PPS, lalu dia dilantik menjadi lurah di suatu kelurahan menggantikan lurah lama yang telah dipindahtugaskan.

Sebelum bekerja sama sebagai penyelenggara pemilu, saya sudah mengenal Pak Budi karena beliau ini sekampung dengan suami.

Ada yang unik dengan proses kenaikan pangkatnya jadi lurah. Dia dipanggil oleh wali kota untuk dites mengaji. Rupanya Pak Budi tidak lolos ujian, dia disuruh pulang belajar.

Sepertinya dia sudah bisa mengaji sekarang, buktinya dia telah dilantik kemarin.

Waktu kami mau berangkat coklit terbatas (coktas) ke lapangan, di mobil ada saya, Pak Amin, Bu Kasma, dan Bu Kalma.

Pak Budi menyapa kami dari motornya.

“Mau ke mana?” tanya Pak Budi.

Bu Kalma lalu menghampirinya menjelaskan niat kami mau coktas di salah satu wilayah kecamatan.

Kami kemudian lanjut naik mobil dan saya tiba-tiba nyeletuk,

“Eh, tahu tidak? Pak Budi kemarin sempat tidak lolos ngaji.”

Hening, tak ada yang menimpali omonganku.

Seketika saya sadar telah gibah. Saya membekap mulut dan mengetok kepala sendiri.

“Astagfirullah, apa gunanya saya mengatakan ini?”

Bu Kalma hanya mengiyakan dengan anggukan dan senyum kecut.

Seharian itu saya istigfar dan saya menyesali kenapa mengucapkan kalimat buruk itu. Itu spontan dan tanpa pikir-pikir dulu.

Tadi di mobil saya mencoba menebus dosa dengan bilang, “Pak Budi baik hati, membantu urusanku di kelurahan.”

Agak garing.

Astagfirullah, seakan saya lancar ngaji saja, merendahkan orang lain sedemikian rupa. Semoga Allah mengampuni.

Saya belajar dari cerita ini:

  1. Janganlah tahu aib orang lain, kamu akan kesulitan menyimpannya untuk pengetahuanmu sendiri.
  2. Hitunglah 10 detik sebelum bicara.
  3. Istigfar segera untuk setiap dosa yang dilakukan.
Ditulis 11 Maret 2026

Cara Kerja Rezeki



Oleh Nur Islah Ditulis pada 9 Maret 2026


Kenapa ada penjual yang dagangannya ramai, ada yang sepi? 
Mungkin karena “pelit” salah satu sebabnya.

Saya memilih membeli tomat di lapak seorang bapak umur 40-an yang terlihat sepi pembeli, supaya Allah mencatatnya sebagai sedekah. Padahal tomat di tempat lain seharga Rp5.000–6.000. Bapak ini menjual tomat dengan 2 harga: Rp5.000 untuk yang kualitas kurang, Rp7.000 untuk kualitas bagus. 

Saya memutuskan membeli harga Rp7.000. Bapak penjual mulai menimbang 1 kg tomat. Saya melihat jarum di timbangan lebih 1 garis dari 1 kg, artinya lebih 10 gram dari seharusnya. Saya kira dia akan mengikhlaskannya, ternyata dia mengembalikan 2 buah tomat ke tempatnya.

Saya mendapati diriku urung menanyakan harga cabe di samping tumpukan tomat. Oh, inilah penyebabnya, saya jadi paham. 

Padahal jika dia tidak sepelit dan seperhitungan tadi, bisa jadi saya belanja macam-macam dan akan jadi langganan. 

Lain cerita dengan Pak Aji, penjual pisang. Di saat memasuki Ramadan, saya kaget sejak mulai masuk pasar. Saya dapati harga rata-rata pisang naik 2 kali lipat, bahkan ada 1 sisir dijual Rp30.000. Saya dan suami tatap-tatapan dengan mulut menganga.

Kami akhirnya masuk ke bagian dalam sebelah kanan pasar. 

Sebelum lapak Pak Aji, harga pisang masih tinggi, Rp20.000 per sisir. Tak ada lapak antaranya, Pak Aji menjual Rp15.000 / 2 sisir. 

Saya sampai mengulang pertanyaan dan memastikan harganya benar.

Oohh, rupanya ini cara kerjanya rezeki. Pantas pisang-pisang di penjual yang lain tinggal jadi stok yang bonyok dan menghitam. Pisang di lapak Pak Aji dihitung jari jika sudah siang hari.
Masya Allah. 

Demikian hal yang kupelajari hari ini.