Alarm handphone saya setel pukul 04.00 WITA, dengan nada
dering yang cukup nyaring. Rayyan tasmi hari ini. Ustadzahnya bilang acara
dimulai pukul 05.30. Pagi benar.
Afif diusahakan ikut bangun, saya mandikan dengan air
hangat, lalu mengenakannya baju koko dan sarung yang baru saja kubeli. Setelah
berpakaian dia tertidur lagi. Tak mengapalah, kalau tiba waktunya berangkat,
dia langsung diangkut saja.
Yang sulit bangun malah bapaknya. Sambil setrika, bibirku
tidak berhenti nyerocos membangunkan dia, disertai tips bangun cepat.
“Kalau matanya berat kayak melengket, dipijat-pijat bagian
bawah dan atas mata, saya selalu begitu kalau susah bangun… insya Allah
langsung seger.”
Tapi tahukah engkau apa yang terjadi? Saya yang bangun pukul
04.00 dini hari, tapi dia yang duluan siap dengan pakaian yang sudah rapi.
Allahu akbar :D
Kami meninggalkan rumah pukul 05.30 WITA. Sesampai di
sekolah, kami malah bingung ruang tasminya di mana. Saya chat wali kelas
Rayyan, beliau menunjukkan foto Rayyan sedang duduk rapi siap tasmi.
Bergegas saya bertanya ke siswa yang terlihat, dia menunjuk
lantai 2. Ruang tasmi rupanya ada pas di ujung tangga, ruangannya cukup sempit.
Saya mendapati Rayyan sudah menghapal 3 halaman surah Al-Baqarah, kami
terlambat.
Kami langsung ambil posisi duduk, mencari bacaan yang sedang
dibaca Rayyan. Mata saya tertuju langsung ke ayat yang dibaca, duh senangnya,
merasa itu adalah pertanda baik, semoga tasminya lancar.
Belum berapa lama kami duduk menyimak, Rayyan minta
berhenti, meringis sakit perut karena lapar… alamak. Biasanya juga tahan,
mungkin ini lapar disertai nervous.
Kue basah yang kami pesan sejak kemarin kabarnya baru
selesai dikukus. Kata penjualnya akan rawan hancur jika belum set tapi langsung
dipotong, jadi tukang kue meminta kami jangan menjemput dulu.
Tapi karena tasmi diberhentikan total gara-gara serangan
lapar, terpaksa Pap Nay bergegas menjemput kue itu.
Rayyan masih meringis kesakitan. Ustadz meminta wali kelas
mengecek apakah ada sarapan yang sudah matang di dapur panitia mabit. Tak lama
kemudian, Rayyan diajak udstazahnya makan di lantai 3.
Sambil menunggu Rayyan, ustadz bercerita soal umrah.
Kebetulan beliau bergabung dengan sebuah travel dan menceritakan keunggulan
travel tersebut, mengajak kami ikut serta dan menyampaikan ke teman-teman
seandainya ada yang berencana mengunjungi Baitullah.
Rayyan datang dengan wajah lebih segar, dia sudah makan…
langsung melanjutkan tasmi tanpa ba bi bu be. Dia ingat di ayat mana tadi
berhenti, saya takjub.
Tak lama kemudian Pap Nay memasuki ruangan sambil menenteng
kue yang masih hangat. Rayyan tetap melanjutkan tasmi, dia tidak menyentuh kue
itu sampai kami pulang.
Rayyan tasmi 5 juz sekali duduk. Saya merasa bersalah pernah
underestimate apakah dia mampu melakukannya, karena dia enggan muroaja’ah di
rumah. Katanya di sekolah dia sudah muroja’ah, dia mau melakukan hal-hal lain
kalau di rumah, seperti membaca buku atau bermain.
Barulah 2 pekan terakhir ini, dia mulai men-drill satu per
satu hapalannya, yaitu juz 1, 2, 3, 29, 30 di rumah.
Saat men-drill di rumah, saya menandai dengan pensil
bagian-bagian yang dia nyangkut. Kebanyakan dia tersendat di juz 2. Mungkin
karena fokus memperbaiki juz 2, sehingga bagian itu yang lancar saat tasmi.
Saya merasa cara Rayyan menghapal sudah bagus, beberapa
bagian lupa di awal-awal ayat, tapi itu manusiawi menurutku.
Dimulai pukul 05.30, berakhir pukul 10.00. Seandainya tidak
ada insiden penundaan, Rayyan bisa menyelesaikannya lebih cepat. Begitu kata
ustadzahnya.
Hatiku mengharu biru waktu Rayyan selesai tasmi. Yang ada di
bayanganku pertama kali adalah kegigihan dia memperlancar hapalannya.
Ah, dari mana gen kegigihan itu muncul, mungkin dari
emaknya. Hahaha.
Setiap pembacaan ayat terakhir di setiap halaman, seluruh
yang hadir turut melafalkan. Di momen itu tak lupa saya mendoakan Rayyan
istiqomah menghapal.
Semoga Allah mengabulkan doa mamanya yang fakir ilmu ini.
Kata orang-orang, doa ibu sangat makbul, walaupun emaknya masih bercita-cita
jadi solehah, belum solehah beneran.
Semoga Rayyan cinta dengan Al-Qur’an.
Sesi kami tutup dengan foto-foto. Nasi dos yang dipesan dari
tadi dilirik oleh Rayyan yang rupanya masih lapar.
Kami minta ustadzah membagi-bagi ke siswa dan guru yang
hadir, sisanya sesuai jumlah kami serumah kami bawa pulang. Kami makan di
gazebo di pinggir laut.
Habis makan bekal, kami makan es krim di Mixue. Kita
menyantap yang dingin-dingin, maklum otaknya baru selesai bekerja keras.
Demikian cerita kita hari ini. Bukan Rayyan dan kami yang
hebat, Allah maha baik mengirimkan orang-orang baik membantu hapalan Rayyan.
Semoga istiqomah muroja’ah yah, Nak. Selamat!

Foto Rayyan tasmi di tahun selanjutnya


0 komentar:
Posting Komentar
Ada palekko ada kanse
Disantap dengan sambal cobek tumis
Leave any comment please
Yang penting tidak bikin penulis meringis